Sunday, 9 August 2015

lp jiwa



HARGA DIRI RENDAH

A.    MASALAH UTAMA

Harga diri rendah.

B.     PENGERTIAN
Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggungjawab pada kehidupannya sendiri.

C.    PROSES TERJADINYA MASALAH

Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang diriya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sunden, 1995). Konsep diri tidak terbentuk sejak lahir namun dipelajari.

RENTANG RESPON KONSEP DIRI


 
Respon adaptif                                                            Respon maladaptif


 


Aktualisasi         Konsep diri         Harga diri           Kerancuan       
Depersonalisasi
       Diri                    positif             rendah                 identitas

Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Keliat, 1999). Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggungjawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri rendah jika kehilangan kasih sayang dan penghargaan orang lain. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain.
            Gangguan harga diri rendah di gambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secara sosial.
Faktor yang mempegaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yag tidak realistis. Sedangkan stresor pencetus mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti :
1.      Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang megancam.
2.      Ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi. Ada tiga jeis transisi peran :
a.              Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai tekanan untuk peyesuaian diri.
b.          Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c.           Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini mungkin dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh, perubahan fisik, prosedur medis dan keperawatan.




Gangguan harga diri atau harga diri rendah dapat terjadi secara:
1.      Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba‑tiba, misal harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubugan kerja dll. Pada pasien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopani (pemasangan kateter, pemeriksaan pemeriksaan perianal dll.), harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena di rawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai.
2.      Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama

D.    POHON MASALAH




Resiko isolasi sosial: menarik diri   
 
 
                                                                                                         


 


Text Box: Gangguan konsep diri : Harga diri rendah

                           
                                                                  
                                                            Core problem


 
                                                            
Berduka disfungsional
 
                                                                                                
                                                                                                         

                                                                     

E.     MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

1.       Masalah keperawatan:
a.       Resiko isolasi sosial: menarik diri.
b.      Gangguan konsep diri: harga diri rendah.
c.       Berduka disfungsional.
2.      Data yang perlu dikaji:
a.      Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
b.      Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

F.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Resiko isolasi sosial: menarik diri   berhubungan dengan harga diri rendah.
2.      Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan berduka disfungsional.

G.    RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
a.       Tujuan umum: sesuai masalah (problem).

b.      Tujuan khusus:
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan:
1.1. Bina hubungan saling percaya
    ‑ Salam terapeutik
    ‑ Perkenalan diri
    ‑ Jelaskan tujuan inteniksi
    ‑ Ciptakan lingkungan yang tenang
    ‑ Buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan).
1.2.Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya.
1.3.Sediakan waktu untuk mendengarkan klien.
1.4.Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.

2.      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan:
2.1.Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
2.2.Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis.
2.3.Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.

3.      Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan:
3.1.Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat digunakan.
3.2.Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah.

4.      Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :
4.1.Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan.
4.2.Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien.
4.3.Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

5.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
5.1.Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
5.2.Beri pujian atas keberhasilan
5.3.Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.


6.      Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.
Tindakan:
6.1.Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
6.2.Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
6.3.Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
6.4.Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.






















DAFTAR PUSTAKA

1.            Dalami, Ernawati. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Jakarta : CV. Trans Info Media
2.            Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung : PT. Refika Aditama
3.            Herman Surya Direja, Ade. 2011. Asuhan Keperawatan Tujuh Diagnosa Keperawatan Jiwa. Yogayakarta : Nutia Medika
4.            Keliat, Budi Ana. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC



LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI

I.                   DIAGNOSA KEPERAWATAN
HALUSINASI
II.                PROSES TERJADINYA MASALAH
A.    PENGERTIAN
-          Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam mebedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara  padahal tidak ada orang yang berbicara.
-          Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensori persepsi : merasakan persepsi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghidungan.
-          Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata, artinya klien menginterpretasikan seuatu yang nyata tanpa stimulus / rangsangan dari luar.
B.     RENTANG PESPON


 



o   Waham
o   Halusinasi
o   Kerusakan proses emosi
o   Perilaku tidak terorganisasi
o   Isolasi sosial
 
·         Kadang-kadang proses piker terganggu
·         Ilusi
·         Emosi berlebihan
·         Perilaku yang tidak biasa
·         Menarik diri
 
-          Pikiran logis
-          Persepsi akurat
-          Emosi konsisten dengan pengalaman
-          Perilaku cocok
-          Hubungan social harmonis
 
Adaptif                                                                                    Mal Adaptif







C.     FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI
·         Factor Predisposisi
a.       Genetika
b.      Neurobiology
c.       Neurotransmitter
d.      Abnormal Perkembangan Syaraf
e.       Psikologis
·         Factor Presipitasi
a.       Proses Pengolahan informasi yang berlebihan
b.      Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
c.       Adanya gejala pemicu
D.    KLASIFIKASI
·         Halusinasi pendengaran
-          Data objektif
·         Bicara atau ketawa sendiri
·         Marah-marah tanpa sebab
·         Mengarahkan telinga kearah tertentu
·         Menutup telinga
-          Data subjektif
·         Mendengar suara atau kegaduhan
·         Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
·         Mendengar suara yang menyuruh
·         Halunisasi pendengaran
-          Data objektif
·         Menunjuk-nunjuk kearah tertentu
·         Ketakutan kepada sesuatu yang tidak jelas
-          Data subjektif
·         Melihat bayangan, sinar bentuk geometris bentuk kartoon, melihat hantu atau monster.
·         Halusinasi Penghidu
-          Data objek
·         Menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu
·         Menutuphidung
-          Data subjektif
·         Membaui bau-bauan seperti bau darah, urine, feses kadang-kadang bau itu menyenangkan
·         Halusinasi pengecap
-          Data objektif
·         Sering meludah
·         Muntah
-          Data subjektif
·         Merasaka rasa seperti darah, urine atau feses
·         Halusinasi perabaan
-          Data objektif
·         Mengaruk-garuk permukaan kulit
-          Data subjektif
·         Menyatakan ada serangga dipermukaan kulit, merasa tersengat listrik
E.     PATOFISIOLOGI
Stress

Cemas

Perasaan perpisahan

Kesepian

Melamun dan memikirkan hal menyenangkan   rasa cemas

Halunisasi dalam bentuk suara,gambar,         merasa tidak kuat sensasi

Ancaman perintah / kemarahan

Klien kehilangan control
 

Ketakutan


Halusinasi sendiri                                            halunisasi pada orang lain + lingkungan

Sensori internal                                               sensori eksternal

F.      MEKANISME KOPING
-          Regresi, menghindari stres, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti pada perlaku perkembanga anak aau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menangulangi ansietas.
-          Proyeksi,keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi pada orangn lain karena kesalahan yang dilakukan diri sendiri (sebagai upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi)
-          Menarik diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindar sumber stressor misalnya menjauhi polusi, sumber infeksi, psikologis individu menunjukkan perilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan.

G.    POHON MASALAH
Perilaku kekerasan

Gangguan sensori persepsihalusinasi

Isolisasi social


III.             MASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL ( PERLU DIKAJI )
Masalah/DiagnosaKeperawatan
Data Mayor
Data Minor
Gangguan sensori persepsi halusinasi
·         Subjektif
·         Menagatakan mendengar suara bisiakan/melihat bayangan
·         Obyektif
·         Bicara sendiri
·         Tertawa sendiri
·         Marah tanpa sebab
·         Subyektif
·         Menyatakan kesal
·         Menyatakan senang pada suara-suara
·         Obyektif
·         Menyendiri
·         melamun

IV.             DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Resti menciderai diri sendiri dan orang lain berdampak sensori persepsi (halusinasi pendengaran)
DS :
v  Klien mengatakan mendengar suara untuk mencekik setiap pria
v  Klien mengatakan ketakutan aka suara-sura yang menyuruhnya
v  Klien mengatakan jika suara itu muncul, klien selalu memukulkan kepalanya ke dinding
DO :
v  Klien tampak gelisah, bingung
v  Klien sering komat-kamit dan tertawa sendiri
v  Klien sering melamun
v  Klien sering tampak mondar-mandir
  1. Gangguan persepsi sensori / halusinasi dengan berdampak isolasi b.d menarik diri.
DS :
v  Klien mengatakan malu bila bertemu dengan orang lain
v  Klien mengatakan lebih suka sendiri

DO :
v  Klien selalu berada dalam kamar
v  Klien selalu menundukkan kepala saat berbicara
v  Klien sering tidak menjawab pertanyaan dari siapapun
  1. Gangguan isolasisosial : menarik diri berdampak gangguan konsep diri : HDR
DS :
v  Klien mengatakan malu bila bertemu dengan orang lain
v  Klien mengatakan senang sendiri
v  Klien mengatakan dirinya tidak berani
DO :
v  Klien terlihat diam saat diajak berbicara
v  Klien tidak mau bertemu orang lain
v  Saat diajak bicara klien menunjukkan kepala
V.                RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
  1. TUM
Klien tidak menciderai diri sendiri/orang lain/lingkungan
  1. TUK
a.       klien dapat membina hubungan saling percaya
1.1    Bina hubungan saling percaya
a.       Sapa klien ramah baik verban maupun verbal
b.      Perkenalkan diri dengan sopan
c.       Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d.      Jelaskan tujua pertemuan
e.       Berikan perhatian pada klien, perhatikan kebutuhan dasar klien
1.2    Beri kesempatan klien untuk mengungkapkanperasaannya
1.3    Dengar ungkapan klien dengan empati
b.      klien dapat mengenal halusinasinya
2.1    Adakah kontak sering dan singkat secara betahap
2.2    Observasi tingkah laku klien terkait halusinasinya : bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang ke kanan / ke kiri / ke depan seolah-olah ada teman bicara.
2.3    Bantu klien mengenal halusinasinya
a.       Jika menemukan klien edang halusinasi, tanyakan apakah ada suara yang di dengar
b.      Jika klien menjawab ada,lanjutka apa yang di tanyakan
c.       Katakana bahwa perawat percaya klien mendengasr suara itu namun perawat sendiri tak mendengarnya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh ataumengalami)
d.      Katakana bahwa klien lain juga ada seperti k.


VI.             DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI 2000. Keperawatan Jiwa : Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Depkes RI.
Stuatr,G.W dan Sundeen,S.J.1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Terjemaha dari Pocket Guide to Psyciaric Nursing, oleh Achir Yani S.Hamid.3 ed.
Towsen & Mary C. 1998. Diagnosa Keperawatan Psikiatri Edisi.Jakarta : EGC.


LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL

               I.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Isolasi Sosial
            II.      PROSES TERJADINYA MASALAH
A.    Pengertian
-          Menurut Depkes RI (2000), kerusakan interaksi social merupakan suatu gangguan interpersonsl yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel menimbulkan perilaku maladaptif  dan megganggu fungsi seseorang dalam hubungan social
-          Menurut Balitbang (2007), merupakan upaya menghindari hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran dan kegagalan. Klien mengalami kesulitan dalam berhubungan secara spontan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak ada sanggup berbagi pengalaman.
-          Menurut Stuart dan Sundeen (1998), kerusakan interksi sosial adalah gangguan  kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptive, dan mengganggu fun si individu ddalam interaksi sosialnya.
-          Menurut Tasend(1998), kerusakan interaksi social adalah suatu keadaan dimana seseorang berpartisipasi dalam pertukaran social dengan kuantitas dan kualotas yang tidak efektif. Klien yang mengalami kerusakan interaksi social mengalami kesulitan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain salah satunya mengarah pada menarik diri.
-          Menurut Rawlins (1993), di kutip Keliat (2001), menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksim dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.

B.     Rentang Respons






 


adaptif                                                                       maladaptif


 
-          Menyendiri
-          Otonomi
-          Bekerjasama
-          interdependen
-          merasa sendiri
-          dependesia
-          curiga
-          menarik diri
-          keterngantungan
-          manipulasi
-          curiga
                                     
C.     Factor Predisposisi dan Presipitasi
·         Factor perdisposisi
-          Factor tumbuh kembang
Pada setiap tahap tumbuh kemnbang individu ada tugas perkembangan yang harus  terpenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan social.
Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak dipenuhi maka akan menghambat fase perkembangan social yang nantinya akan menimbulaka masalah
-          Factor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan factor pendukung tetrjadinya gangguan dalam hubungan social. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehinngga menimbulkan ketidak jelasan(double blind) yaitu suatu keadaan dimana seseorang anngota keluarga menerima  pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.
-          Factor social  budaya
Isolasi social atau mengasingkan diri dari lingkungan social merupakan suatu factor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan social. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga, dimana setiap anngota keluarga yang tidak produktif seperti usia lanjut, berpenyakit kronis dan penyandang cacat diasingkan dari lingkungan sosialnya.
·         Factor presipitasi
Terjadinya gangguan hubungan social juga dapat diti8mbulkan oleh factor internal dan eksternal seseorang. Factor stressor presipitasi juga dapat dikelompokkan sebagai berikut :
-          Factor eksternal
Contohnya adalah stressor social budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh factor social budaya seperti keluarga.
-          Factor internal
Contohnya adalah stressor psikologis yaitu stress terjadi akibat ansietas atau keemasan berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini terjadi akibat tuntutan untuk berpuisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.
D.    Klasifikasi
E.     Patofisiologi
Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya rendah, sehinnga timbul rasa malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut maka akan menyebabkan perubahan persepsi sensori : halusini dan resiko menciderai diri, orang lain bahkan lingkungan. Perilaku yang tertutup dengan orang lain juga bias menyebabkan intoleransi aktivitas yang akhirnya bisa berpengaruh terhadap ketidakmampuan untuk melakuakn perawatan secara mandiri.
Seseorang yang mempunyai harga diri rendah awalnya disebabkan ketidakmampuan untuk menyelesaikan masaloah dalam hidupnya, sehingga orang terseburt berperilaku tidak normal. (koping individu tidak aktif). Peranan keluarga cukup besar dalam mendorong klien agar mampu menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, bila sistem pendukungnya tidak baik (koping keluarga tidak efektif) maka akan mendukung seseorang memiliki harga diri rendah.
F.      Tanda dan gejala
a.       Kurang spontan
b.      Apatis (acuh terhadap lingkungan)
c.       Ekspresi wajah kurang berseri
d.      Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
e.       Tidak ada atau kurang komunukasi verbal
f.       Mengisolasi diri
g.      Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
h.      Asupan makanan dan minuma terganggu
i.        Retensi urine dan feses
j.        Aktivitas menurun
k.      Kurang energi
l.        Rendah diri
m.    Postur tubuh berubah misalnya sikap fetus / janin ( khususnya pada posisi tidur)
G.    Mekanisme koping
H.    Pohon masalah
Resti menciderai diri, orang lain dan lingkungan

Deficit perawatan diri

Intoleransi aktivitas



 
Koping individu tidak aktif
GPS : Halisinasi

Isolasi social

Harga diri rendah kronis

Koping keluarga tidak efektif




         III.      MASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL ( PERLU DIKAJI )
Masalah/ Diagnosa keperwatan
Data yang perlu diambil
Isolasi sosial
Subjektif :
-          Klien mengatakan malas bergaul dengan orang lain
-          Klien mengatakan dirinya tidak ingin ditemani perawat dan meminta untuk sendirian
-          Klien mengatakan tidak mau berbicara dengan orang lain
-          Tidak mau berkomunikasi
-          Data tentanf klien biasanya di dapat dari keluarga yang mengetahui keterbatasan klien (suami,istri,anak,ibu,ayah,atau teman dekat)
Objektif :
-          Kurang spontan
-          Apatis (acuh terhadap lingkungan)
-          Ekspresi wajah kurang berseri
-          Tidak merawat diri tidak memperhatikan kebersihan diri
-          Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
-          Mengisolasi diri
-          Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitarnya
-          Asupan makanan dan minuman terganggu
-          Retensi urine dan feses
-          Aktivitas menurun
-          Kurang berenergi atau bertenaga
-          Rendh diri
-          Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus atau janin (khususnya pada posisi tidur)
         IV.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
-          Resiko Perubahan sensori persepsi halusinasi
-          Isolasi sosial
            V.      RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tujuan umum klien dapat berinteraksi dengan orang lain:
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan criteria evaluasi setelah satu kali berinteraksi klien menunjukkan tanda-tanda kepada perawat seprti wajah cerah, tersenyum, mau berkenalan,ada kontak mata, bersedia menceritakan permasalahannya.
Intervensi yang di lakukan :
-          Beri salam setiap berinteraksi
-          Perkenalkan nama dan panggilan nama perawat
-          Sampaikan tujuan pertemuan, tanyakan nama lengkap klien dan panggilan nama kesukaan klien
-          Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
-          Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
-          Buat kontrak interaksi yang jelas dan dengarkan penuh perhatian

         VI.      DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI.2000. Keperawatan Jiwa : Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Jakarta. Depkes RI.
Baitbang. 2007. Workshop Standar Proses Keperawatan Jiwa. Bogor.
Towsend.Mary C. 1998. Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta .EGC.
Rawlins, Ruth Pamelee. 1993. Clinical Manual Of Psiciatric Nursing. Second Edition. St. Louis Misouri : Mosby Year.





LAPORAN PENSDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH

                   I.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Harga diri rendah
                II.      PROSE TERJADINYA MASALAH
A.    Pengertian
-          Harga diri rendah kronis adalah evaluasi diri atau perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negative yang dipertahankan dalam waktu yang lama. (Nanda,2005)
-          Individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih rendah dari orang lain. (Depkes RI,2000).
-          Evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negative dan dapat secra langsung dan tidak langsung di ekspresikan. (Towsend,1998)
-          Perasaan negative terhadap diri sendiri, hilamgnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan. (Keliat,1998)
B.     Rentang respons

Respon adaptif                                                     respon maladaptif


 
Aktulisasi
Depersonalisasi diri
Konsep diri
Positif
Harga diri rendah
Kerancuan identitas

C.     Factor predisposisi dan presipitasi
·         Factor predisposisi
Factor predisposisi terjadinya harga diri rendah kronis adalah penolakan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung  jawab personal, ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
·         Factor presipitasi
Factor presipitasi terjadinya harga diri rendah adalah hilangnya sebagian anggota tubuh, mengalami kegagalan serta menurunnya produktivitas ganggua konsep diri.
Harga diri rendah kronis ini dapat secara situasional maupun kronik.
D.    Klasifikasi
E.     Patofisiologi
Harga diri rendah kronis terjadi merupakan proses kelanjutan dari harga diri rendah situasional yang tidak di selesaikan. Atau dapat juga terjadi karena individu tidak pernah mendapat feedback dari lingkungan tentang perilaku klien  sebelumnya bahkan mungkin kecenderungan lingkungan yang selalu memberi respon negative mendorong menjadi harga diri rendah. Harga diri rendah kronis terjadi di sebabkan banyak factor. Awalnya individu berada pada suatu situasi yang penuh dengan stressor (krisis), individu berusaha menyelesaikan krisis tidak tuntas sehingga timbul pikiran bahwa diri tidak mampu atau merasa gagal menjalankan fungsi danperan adalah kondisi rendah situasional, jika lingkungan tidak memberi dukungan positif atau justru menyalahkan individu dan terjadi secara terus menerus akanmengakibatkan individu mengalami harga diri rendah kronis.
F.      Mekanisme koping
Mekanisme koping jangka pendek yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis, misalnya pemakaian obat-obatan, kerja keras, nonton tv terus menerus. Kegiatan menganti identitas sementara, misalnya ikut kelompok social, keagamaan dan politik,. Kegiatan yang memberi dukungan sementara, seperti mengikuti suatu kompetisi atau kontes popularitas. Kegiatan mencoba menghilangkan antiidentias sementara, seperti penyalah gunaan obat-obatan. Jika mekanisme koping jangka pendek tidak memberi hasil yang di harapkan individu akan menyebabkan mekanisme koping jangka panjang antara lain adalah menutup identitas dimana klien terlalumcepat mengadopsi identitas yang di senangi orang-orang yang berarti tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri. Identitas negative dimana asumsi yang bertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat. Sedangkan mekanisme pertahanan ego yang sering di gunakan adalah fantasi, regresi, disasosiasi, isolasi,proyeksi, mengalihakan marah terbalik pada diri sendiri dan orang lain.
G.    Pohon masalah
Resiko tinggi perilaku kekerasan

Effect                                             perubahan persepsi sensori : halusinasi            
                                                                        Isolasi sosial

Care problem                                    harga diri rendah kronis

Causa                                               koping individu tidak efektif


             III.      PROSES TEJADINYA MASALAHMASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL ( PERLU DI KAJI )

Masalah/Diagnosa keperawatan
Data yang perlu di ambil
Harga diri rendah kronis
Subjektif :
-          Mengungkapkan dirinya tidak berguna
-          Mengungkapkan dirinya tidak semangat untuk beraktivitas atau bekerja
-          Mengungkapkan dirinya malas melakukan perawatan diri (mandi,berhias,makan atau toileting)
Objektif :
-          Mengkritik diri sendiri
-          Perasaan tidak mampu
-          Pandangan hidup yang pesimis
-          Tidak menerima pujian
-          Penurunan produktivitas
-          Penolakan terhadap kemampuan diri
-          Kurang memperhatikan perawatan diri
-          Berpakaian tidak rapi
-          Berkurang selera makan
-          Tidak berani menatap lawan bicara
-          Lebih banyak menunduk
-          Bicara lambta dengan nada suara rendah

             IV.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
-          Harga diri rendah kronis

                V.      RENCANA TINDAKAN KEPERWATAN
Dx Kep
Perencanaan

Tujuan
TUM : Klien memiliki konsep diri yang positif
TUK :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Criteria evaluasi




1.      setelah…kali interaksi klien menunjukkan ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang di hadapi.




1.       
Intervensi




1.      bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapiutik :
-          sapa klien dengan ramah baikverbal maupun non verbal
-          perkenalkan diri dengan sopan
-          tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang di sukaim klien
-          jelaskan tujuan pertemuan
-          jujur dan menepati janji
-          tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
-          beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien















             VI.      DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI.2000.Keperawatan Jiwa : Teori Dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Jakarta : Depkes RI.
Stuart,G.W dan Sundeen,S.J.1995. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Terjemahan dari Pocket Guide to Psyciatric Nursing, oleh Achir Yani S. Hamid. 3 ed. Jakarta.EGC.
Towsend, Mary C. 1998. Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Edisi 3.


     




LAPORAN PENDAHULUAN
WAHAM

       I.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
WAHAM
    II.      PROSES TERJADINYA MASALAH
A.    Pengertian
-          Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan secara kukuh di pertahankan walaupun tidak di yakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita normal. (Suart dan Sundeen,1998)
-          Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi di pertahankan dan tidak dapat di ubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilanmgan kontrol. (Depkes RI,2000)
-          Waham adalah suatu keyakinan seseoarang berdasarakan penilaian realitas yang salah., keyakinian yang tidak konsisten dan tingkat intelektual dan latar belakang budaya, ketidak mampuan merespon, stimulus internal dan eksternal melalui proses atau informasi secara akurat. (Keliat,1999).
B.     Rentang respon











-          pikiran logis
-          Persepsi akurat
-          Emosi konsisten dengan pengalaman
-          Perilaku social
-          Hubungan sosial
 

·         Kadang-kadang proses pikir terganggu
·         Ilusi
·         Emosi berlebihan
·         Perilaku yang tidak biasa
·         menarik diri
 

o   gangguan isi pikir halusinasi
o   perubahan proses emosi
o   perilaku tidak terorganisasi
o   isolasi sosial
 
 











C.     Factor Predisposisi dan Predispitasi
·         factor Predisposisi
-          factor perkembangan
Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal seseoarang. hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannnya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
-          factor social budaya
Seseorang yang merasa di asingkan dankesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.
-          factor psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda/bertentangan, dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan.
-          factor biologis
waham di yakini karena adanya atrofi otak, atau perubahan pada sel kortikol dan limbic.
-          factor genetik
·         factor Presipitasi
-          factor social budaya
waham dapat di picu karena adanya perpisahan dengan paham yang berarti atau di asingkan dari kelompok
-          factor biokimia
Dopamine, norepineprin, dan zat halusinasinogen lainnya di duga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
-          factor psikologis
Kecemasan yang memandang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien  mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.
D.    Klasifikasi
-          Waham kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain, diucapkan berulang-ulang tapi tidak sesuai dengan kenyataan.
“ Saya ini pejabat di kementrian kesehatan!
“ Saya punya perusahaan paling besar di dunia lho….”
-          Waham agama
Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, di ucapakan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
“ Kalau saya mau masuk surga. Saya harus mamakai pakaian serba putih dan mengalungkan tsbih setiap hari “
“ Saya adalah tuhan yang bias mengendalikan makhluk “
-          Waham curiga
Keyakinan seseoarang atau sekelompok orang berusaha merugikan atau menciderai dirinya, diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“ Saya tahu….Semua keluarga saya ingin manghancurkan hidup saya karena mereka semua iri dengan kesuksesan yang di alami saya.
-          Waham somatic
Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit, diucapkan berulang ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“Saya menderita kanker” (Padahal hasil pemeriksaan lab tidak ada sel kanker pada tubuhnya)
-          Waham nihilistic
Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang  ulang tetapi tidak sesuai
-          Waham dosa
Keyakinan bahwa dirinya merasa berdosa dan selalu  dibayangi perasaan bersalah dengan perbuatannya, diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
-          Waham yang bizar
·         Sisip piker adalah keyajinan klien terhadap suatu pikiran orang lain yang disisipkan di dalam pikirannya secara berlebihan dan diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
·         Siap pikir adalah keyakinan klien terhadap suatu / orang lain yang mengetahui apa yang mereka pikirkan walaupun ia tidak mengatakannya kepada orang tersebut  dan diucapkan berulang – ulang tetapi  tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Kontrol pikir waham pengaruh adalah klien yakin bahwa pikirannya selalu dikontrol oleh kekuatan diluar dirinya / kekuatan aneh, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
E.     Patofisiologi
-          Perasaan diancam oleh lingkungan, cemas dan merasa sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya.
-          Individu mencoba mengingkari ancaman dari objek realitas dengan menyalahkan kesan terhadap kejadian.
-          Individu memproyeksikan pikiran dan perasaan  internal pada lingkungan sehingga tidak dapat diterima menjadi bagian eksternal.
F.      Mekanisme Koping
G.    Pohon Masalah
Effect                    risiko tinggi perialku kekerasan
 

Care Problem        Perubahan sensori waham

Causa                    Isolasi social : menarik diri
                             
                              Harga rendah kronis
 III.      MASALAH / DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL ( PERLU DI KAJI )
Masalah / Diagram Keperawatan
Data yang Perlu Diambil
Perubahan Proses Pikir :
Waham
Subjektif
·        Klien mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling hebat
·        Klien mengatakan bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus
Objektif :
·        Klien terlihat terus mengoceh tentang kemampuan yang dimilikinya
·        Pembicaraan klien cenderung berulang
·        Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan

 IV.      DIAGNOSA KEPWERAWATAN
·         Perubahan proses pikir waham
·         Gangguan proses piker yang di tandai dengan keyakinian tentang diri dan lingkunagn yang menyimpang, di pertahankan secara kuat

    V.      RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Tujuan
Criteria evalauasi
intervensi
Pasien mampu :
-          Berorientasi kepada realitas secara bertahap
-          Mampu berinteraksi dengan orang lain & lingkungan
-          Menggunakan  obat dengan prinsip 6 benar
Setelah…..x pertemuan, pasien dapat memenuhi kebutuhannya







Seteklah…x pertemuan, pasien mampu :
-          Menyebutkan kegiatan yang sudah di lakukan
-          Mampu menyebutkan serta memilih kemampuan yang di miliki
Setelah…x pertemuan pasien dapat menyebutkan kegiatan yang sudah di lakukan dan mampu memilih kemampuam lain yang di miliki
SP 1
-          Identifikasi kebutuhan pasien
-          Bicara konteks realita (tidak mendukung atau membantah waham pasien)
-          Latihan pasien untuk memenuhi kebutuhannya
            “da sar”
Masukkan dalam jadwal harian pasien
SP 2
-          Evaluasi keguatan yang lalu (SP 1)
-          Identifikasi potensi/kemampuan yang dimiliki
-          Masukkan dalam jadwal kegiatan harianm pasien
SP 3
-          Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 2)
-          Pilih kemampuan yang dapat di lakukan
-          Pilih dan  latih potensi kemampuan lain yang dimiliki
-          Masukkan dalam jadwal kegiatan harian pasien

 VI.      DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI.2000.Keperawatan Jiwa: teori dan tindakan keperawatan jiwa.  Jakarta. Depkes RI.
Keliat,B.A.1999. proses Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC
Stuart, G.W. dan Sunden,S.J.1995. buku saku Keperawatan Jiwa. Terjemahan dari pocket Guide to Psychiatric Nursing, oleh Achir yani S. Hamid.3 ed. Jakarta. EGC.


                                                                                                                   

LAPORAN PENDAHULUAN
PERILAKU KEKERASAN

       I.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
Perilaku Kekerasan
    II.      PROSES TERJADINYA MASALAH
A.    Pengertian
-          Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain, di sertai dengan amuk dan gaduh gelisah yang tidak terkontrol. (Kusumawati dan Hartono,2010)
-          Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yangf dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. (Stuart dan Sundeen,1995).
-          Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk mellukai orang lain secara fisik maupun psikologis. (Berkowitz, dalam Harnawati,1993)
-          Setiap aktivitas bila tidak di cegah dapat mebgarah pada kenmatian. (Stuart dabn Sundeen,1998)
-          Suatu keadaan dimana individu mengalami perilaku yang dapat melukai secara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain . (Towsend,1998)
-          Suatu keadaan dimana klien mengalami perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri, lingkungan, termasuk orang lain, dan barang-barang. (Maramis,1998)
-          Perilaku kekerasan dapat dibagi dua, menjadi perilaku  kekerasan secara verbal dan fisik. (Kether et al,1995)



B.     Rentang Respon







 
      Respon  adaptif                                                                        respon maladaptif


 
Asertif
Frustasi
Pasif
Agresif
Kekerasan

Keterangan :
1.      Asertif
Individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberikan ketenangan
2.      Frustasi
Individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat marah dan tidak dapat menemukan alternative
3.      Pasif
Individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya
4.      Agresif
Perilaku yang menyertai marh, terdapat dorongan untuk menuntut tapi nmasih terkontrol
5.      Kekerasan
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya kontrol
C.     Factor Predisposisi dan Predispetasi
·         Factor Predisposisi
a.       Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan mengalami hambatan akan timbul dorongan  agresif yang memotivasi perilaku kekerasan
b.      Berdasrkan penggunaan mekanisme koping individu dan masa kecil yang tidak menyenangkan
c.       Rasa frustasi
d.      Adanya kekerasan daalm rumah tangga, keluarga atau lingkungan
e.       Teori psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak teropenuhinya kepuasan dan rasa
D.    Klasifikasi
E.     Patofisiologi

Ancaman/kebutuhan





stress





Merasa kuat
cemas
Merasa tidak kuat

Merentang
marah
Melarikan diri

Merasa tidak teratasi
Mengungkapkan secara lain
Mengingkari masalah



Masalah berkepanjangan
lega
Marah tidak terungkap




Ketegangan





Rasa marah te ratasi,muncul rasa permusuhan



Marah pada diri sendiri

Marah pada orang lain dan lingkungan
Depresi psikomatis
Agresif/mengamuk
F.      Mekanisme Koping
Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme koping klien untuk  mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif dalam mengekspresikan kemarahan. Mekanisme koping yang umum di gunakan adalah mekanisme pertahana ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represif, denial dan reaksi formasi.
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
1.      Menyerang atau Menghindar
Pada keadaan ini respion fisiologis timbul karena kegiatan sistem syaraf otonom bereaksi  terhadp sekresi epineprin yang menyebabkan takanan darah meningkat, tkikardi, wajah merah, pupil melebar, mual, sekresi HCL meningkat, peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat, tangan mengepal, tubuh menjadi kaku dan disertai refleks yang cepat.
2.      Menyataka secara Asertif
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif, dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik, individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis dan dengan perilaku tersebut individu juga dapat mengembangkan diri
3.      Membrontak
Perilaku yang muncul biasanya disertai kekerasan akibat konflik perilaku untuk menarik perhatian orang lain.
4.      Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasan atu amuk yanag ditujukan pada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan.




G.    Pohon Masalah


Perilaku kekerasan
GPC : Halusinasi




Regimen terapiutik inefektif
Harga diri rendah kronis
Isolasi sosial : menarik diri



Koping keluarga tidak efektif
Berduka disfungsional



 III.      MASALAH/DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL (PERLU DIKAJI)
Masalah / diagnosa keperawatan
Data yang perlyu diambil
Perilaku kekerasan
Subjektif :
·         Klien mengancam
·         Klien mengumpat dengan kaa-kata kotor
·         Klien mengatakan dendam dan jengkel
·         Klien mengatakan ingin berkelahi
·         Klien menyalahkan dan menuntut
·         Klien meremehkan
Objektif :
·         Mata melotot/pandangan tajam
·         Tangan mengepal
·         Wajah memerah dan tegang
·         Postur tubuh kaku
·         Suara keras

 IV.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
·         Resiko mendciderai diri sendiri, orang lain, lingkungan ybd perlaku kekerasan
·         Perilaku kekerasan ybd halusinasi
    V.      RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Dx Keperawatan
Tujuan
Kriteria Evaluasi
intervensi
Resiko perilaku kekerasan
TUM :
Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan
TUK :
Klien dapat membina hubungan saling percaya





1.      Setelah…..x pertemuan klien menunjukkan tanda-tanda percaya kepada perawat :
·         Wajah cerah, tersenyum
·         Mau berkenalan
·         Ada kontak mata
·         Bersedia meneritakan perasaan

1.       





1.      Bina hubungan saling percaya dengan :
o   Beri salam setiap berinteraksi
o   Perkenalkan nama,nam panggilan perawat dan tujuan perawat berinteraksi
o   Tanyakan & panggil nama kesukaan klien
o   Tunjukkan sikap empati,jujur & tiap kali berinteraksi
o   Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien
o   Buat kontak interaksi  yang jelas

 VI.      DAFTAR PUSTAKA
Kusumawati,  Farida dan Yudi Hartono, 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : Salemba Medika
Stuart, GW. Dan SUndeen, SI, 1995 Buku Saku Keperawatan Jiwa, Terjemah dari Pocket Guide To Psyciatric Nursing, oleh Achir Yuni S. Hamid.33rd ed. Jakarta EGC
Towsend, Mary C. 1998. Diagnosa Keperawatan Psikiatri. Edisi 3 Jakarta, EGC.

ponor

sponsor

sponsor

dd

QQQQQQQQ

dffgg